Di setiap pertemuan, di ruang rapat, di forum masyarakat, bahkan dalam obrolan santai di warung kopi, kita hampir selalu mendengar kalimat yang sama ketika seseorang mengusulkan perubahan ke cara yang lebih efektif dan modern:

Duh, maaf ya… saya gaptek je..”
Aduh, saya tidak bisa kalau pakai begitu, saya lebih senang manual…

Kalimat ini terdengar ringan, bahkan kadang disertai tawa. Namun ketika jawaban yang sama terus diulang, tanpa disadari ia menjadi penghambat perubahan. Bukan hanya menghambat sistem, tetapi juga menghambat diri kita sendiri.

– Padahal, dunia di sekitar kita telah berubah.
– Pelayanan publik kini banyak dilakukan secara online.
– Perbankan sudah berpindah ke aplikasi digital.
– Pendaftaran sekolah, layanan kesehatan, pembayaran tagihan, hingga komunikasi keluarga kini semakin bergantung pada teknologi digital.

Perubahan ini bukan bertujuan untuk mempersulit masyarakat, melainkan justru mempermudah, mempercepat, dan membuat segalanya lebih efisien.

Lalu, mengapa alasan “gaptek” masih sering muncul?

1. Tidak Mau Mencoba :
Banyak orang sebenarnya bukan tidak bisa, tetapi takut mencoba. Takut salah. Takut terlihat tidak paham. Takut bertanya. Padahal, setiap orang yang hari ini mahir menggunakan teknologi juga pernah berada di titik nol.

Contoh sederhana:
Saat pertama kali menggunakan ponsel pintar, banyak dari kita bingung menekan tombol, takut salah pencet. Namun karena dicoba setiap hari, menerima telepon, mengirim pesan, membuka kamera, lama-kelamaan semua terasa biasa. Hal yang sama berlaku untuk dunia digital lainnya.

2. Belum Paham Manfaat Teknologi Informasi :
Teknologi sering disalahpahami sebagai sesuatu yang rumit, mahal, dan merepotkan. Padahal, teknologi adalah alat bantu, bukan tujuan.

Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari:
– Dulu, membayar listrik harus pergi ke loket dan antre lama. Sekarang bisa dilakukan dari rumah dalam hitungan menit.
– Dulu, mengirim dokumen harus dicetak dan diantar. Sekarang cukup dikirim lewat email atau aplikasi pesan.
– Dulu, mencari informasi harus bertanya ke banyak orang. Sekarang cukup mengetik di mesin pencari.

Semua ini menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Jika manfaat ini dipahami, maka teknologi tidak lagi terasa menakutkan, melainkan sangat membantu.

3. Tidak Mau Belajar :
Belajar sering dianggap hanya untuk anak muda atau orang sekolah. Padahal, belajar adalah kebutuhan seumur hidup. Dunia terus berubah, dan kita harus menyesuaikan diri agar tidak tertinggal.

Belajar dunia digital tidak harus langsung mahir.
Cukup mulai dari hal kecil:

– Belajar mengisi formulir online
– Belajar membuka website
– Belajar menggunakan satu aplikasi sederhana

Sedikit demi sedikit, kebiasaan baru akan terbentuk.

Mengubah Pola Pikir: Dari “Tidak Bisa” Menjadi “Mau Belajar”

Kita perlu jujur pada diri sendiri:
Bukan teknologinya yang sulit, tetapi kebiasaan lama yang sulit kita lepaskan.

Mengatakan “saya gaptek” memang terasa nyaman, karena seolah-olah itu adalah alasan yang dapat diterima. Namun jika terus diulang, kalimat itu berubah menjadi tembok yang kita bangun sendiri.

Bayangkan jika setiap perubahan selalu ditolak dengan alasan yang sama. Maka kita akan tertinggal, bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena kurang kemauan.

Mari ubah kalimat kita:
– Dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa
– Dari “Manual saja” menjadi “Saya mau coba dulu
– Dari “Saya gaptek” menjadi “Tolong ajari saya

Perubahan memang tidak selalu nyaman. Namun perubahan adalah tanda bahwa kita ingin maju. Dunia digital bukan ancaman, melainkan kesempatan:
– Kesempatan untuk bekerja lebih efektif,
– Kesempatan untuk mendapatkan layanan yang lebih cepat,
– Kesempatan untuk tetap relevan di zaman yang terus bergerak.

Jika hari ini kita berani mencoba satu langkah kecil, membuka aplikasi, belajar fitur baru, bertanya tanpa malu, maka suatu hari nanti kita tidak lagi berkata “saya gaptek”.

Sebaliknya, kita akan dengan bangga mengatakan:

Ternyata tidak sesulit itu. Sekarang saya sudah bisa.”

Karena pada akhirnya, kemajuan tidak ditentukan oleh usia, jabatan, atau latar belakang pendidikan, melainkan oleh kemauan untuk belajar dan keberanian untuk berubah.

Khn230226