Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, kita sering merasakan bahwa unggah-ungguh atau tata krama dalam kehidupan sehari-hari perlahan mulai memudar, terutama di kalangan anak muda. Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi berlangsung pelan namun pasti. Hal-hal kecil yang dahulu dianggap penting dalam pergaulan, kini sering dianggap sepele atau bahkan tidak lagi dikenal oleh sebagian generasi muda.
Unggah-ungguh sebenarnya bukan sekadar aturan sosial yang kaku atau formalitas belaka. Ia merupakan bagian dari nilai budaya yang mengajarkan manusia untuk hidup saling menghormati, saling menghargai, serta memahami batas-batas dalam berperilaku. Dalam kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, unggah-ungguh menjadi salah satu fondasi yang menjaga keharmonisan hubungan antarindividu.
Jika kita menengok beberapa puluh tahun ke belakang, tata krama dalam kehidupan sehari-hari sangat dijunjung tinggi. Anak-anak diajarkan sejak kecil untuk menghormati orang tua, menghargai orang yang lebih tua, serta menjaga sikap di hadapan orang lain. Banyak nilai kesopanan yang ditanamkan bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga melalui contoh langsung dari orang tua dan lingkungan sekitar.
Sebagai contoh sederhana, dahulu seorang anak akan terbiasa mengucapkan salam ketika masuk rumah atau ketika bertemu orang lain. Ketika melewati orang tua yang sedang duduk atau berbincang, mereka akan mengatakan “permisi” sambil sedikit menundukkan badan. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mengandung nilai penghormatan yang sangat besar.
Dalam budaya masyarakat Indonesia, terutama di berbagai daerah, unggah-ungguh bahkan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Cara berbicara kepada orang tua, cara menyampaikan pendapat kepada orang yang lebih tua, hingga cara duduk dan berjalan pun diajarkan dengan penuh perhatian. Semua itu bertujuan agar seseorang tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki budi pekerti yang baik.
Namun seiring berjalannya waktu, perubahan sosial yang begitu cepat mulai membawa dampak terhadap pola kehidupan masyarakat. Globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan gaya hidup secara perlahan memengaruhi cara manusia berinteraksi satu sama lain. Hal-hal yang dahulu dianggap penting kini mulai mengalami pergeseran nilai.
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah dalam cara orang berkomunikasi. Dahulu komunikasi dilakukan secara langsung dan penuh etika. Orang berbicara dengan memperhatikan lawan bicara, menjaga nada suara, serta memilih kata-kata yang sopan. Sekarang, dengan hadirnya teknologi komunikasi seperti ponsel pintar dan media sosial, cara berinteraksi pun ikut berubah.
Anak-anak muda masa kini lebih banyak berkomunikasi melalui pesan singkat, media sosial, atau berbagai platform digital lainnya. Interaksi tatap muka menjadi lebih jarang dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, sebagian dari mereka kurang terbiasa memahami nuansa kesopanan dalam percakapan langsung.
Sebagai contoh yang sering kita jumpai, dahulu seorang anak yang ingin berbicara kepada orang tua biasanya akan memulai dengan kata-kata yang sopan seperti, “Pak, Bu, bolehkah saya bertanya?” atau “Maaf, saya ingin meminta izin.” Namun sekarang, tidak jarang kita mendengar ungkapan yang lebih singkat dan langsung seperti, “Aku mau ini,” atau “Aku pergi dulu,” tanpa didahului dengan kata permisi atau permohonan izin.
Contoh lain dapat dilihat ketika anak muda bertemu dengan orang yang lebih tua di lingkungan sekitar. Dahulu, menyapa orang yang lebih tua merupakan kebiasaan yang sangat umum. Ketika bertemu tetangga atau orang tua di jalan, anak-anak biasanya akan menundukkan kepala sambil mengucapkan salam atau sapaan.
Sekarang, pemandangan seperti itu mulai jarang terlihat. Tidak sedikit anak muda yang berjalan melewati orang tua tanpa menyapa, bahkan sambil sibuk menatap layar ponselnya. Mereka mungkin tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan, tetapi kebiasaan untuk menyapa dan menghormati orang lain mungkin tidak lagi tertanam kuat seperti dahulu.
Hal lain yang juga berubah adalah cara anak muda bersikap di hadapan orang yang lebih tua. Dahulu ketika duduk bersama orang tua, anak-anak akan menjaga sikap dengan baik. Mereka tidak akan berbicara sembarangan, tidak memotong pembicaraan, dan selalu menunggu giliran ketika berbicara.
Sekarang, dalam beberapa situasi kita dapat melihat anak muda yang berbicara dengan nada yang sama seperti ketika berbicara kepada teman sebaya. Bagi sebagian generasi tua, hal ini terasa kurang pantas karena dianggap mengurangi rasa hormat.
Perubahan juga dapat terlihat dalam kehidupan bermasyarakat. Dahulu kegiatan seperti kerja bakti, ronda malam, atau membantu tetangga yang memiliki hajatan merupakan bagian dari kehidupan sosial yang sangat akrab. Para pemuda biasanya menjadi tenaga utama dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
Ketika ada tetangga yang sedang mengadakan acara pernikahan atau syukuran, para pemuda biasanya ikut membantu menata kursi, memasang tenda, atau membantu di dapur. Hal-hal seperti ini bukan hanya sekadar membantu, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga.
Namun sekarang, di beberapa tempat, keterlibatan pemuda dalam kegiatan masyarakat mulai berkurang. Banyak dari mereka yang memiliki kesibukan sendiri, baik karena pekerjaan, pendidikan, maupun aktivitas lain. Selain itu, perkembangan teknologi juga membuat sebagian orang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital.
Sebagai contoh lain yang sering kita jumpai adalah ketika berada di kendaraan umum. Dahulu, ketika ada orang tua atau ibu yang membawa anak kecil berdiri, anak muda biasanya dengan cepat menawarkan tempat duduknya. Sikap ini dianggap sebagai bentuk kepedulian dan penghormatan kepada orang yang lebih membutuhkan.
Sekarang, tidak jarang kita melihat anak muda tetap duduk sambil asyik bermain ponsel tanpa memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sekali lagi, hal ini bukan berarti mereka tidak memiliki rasa empati, tetapi perhatian mereka sering kali teralihkan oleh dunia digital yang ada di genggaman mereka.
Namun demikian, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan anak muda atas perubahan yang terjadi. Mereka tumbuh dalam lingkungan dan zaman yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Pola kehidupan mereka dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak selalu sama dengan kondisi masa lalu.
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah keluarga. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan, termasuk sopan santun dan tata krama. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Jika orang tua membiasakan diri berbicara dengan sopan, menghargai orang lain, serta menunjukkan sikap hormat kepada orang yang lebih tua, maka anak-anak pun akan meniru sikap tersebut secara alami. Sebaliknya, jika nilai-nilai tersebut jarang ditunjukkan dalam kehidupan keluarga, maka anak-anak pun tidak memiliki cukup contoh untuk dipelajari.
Selain keluarga, lingkungan juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Anak-anak belajar dari teman, dari masyarakat sekitar, bahkan dari apa yang mereka lihat di media sosial. Lingkungan yang baik akan memberikan contoh yang baik pula.
Misalnya di lingkungan yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong, anak-anak akan terbiasa melihat orang-orang saling membantu. Mereka akan memahami bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan rasa kepedulian dan tanggung jawab bersama.
Sebaliknya, jika lingkungan cenderung individualistis, maka anak-anak juga akan tumbuh dengan pola pikir yang lebih individual. Mereka mungkin lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai unggah-ungguh kepada generasi muda. Melalui pendidikan karakter, kegiatan sekolah, serta keteladanan para guru, nilai-nilai kesopanan dapat terus ditanamkan kepada para siswa.
Seorang guru yang selalu menyapa muridnya dengan ramah, mengajarkan pentingnya mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menghargai pendapat orang lain, secara tidak langsung sedang membentuk karakter para siswanya.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengambil peran dalam menjaga nilai-nilai ini. Orang-orang yang lebih tua sebaiknya tidak hanya mengkritik generasi muda, tetapi juga memberikan bimbingan dan contoh yang baik. Teguran yang disampaikan dengan cara yang bijaksana sering kali lebih efektif daripada sekadar menyalahkan.
Perlu diingat bahwa tidak semua anak muda kehilangan unggah-ungguh. Masih banyak generasi muda yang memiliki sikap sopan, menghormati orang tua, serta aktif dalam kegiatan sosial. Kita masih sering melihat anak muda yang membantu orang tua menyeberang jalan, membantu tetangga yang kesulitan, atau terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan mereka.
Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa nilai-nilai unggah-ungguh sebenarnya masih hidup di tengah masyarakat. Nilai-nilai tersebut hanya perlu terus dijaga dan diperkuat agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Pada akhirnya, menjaga unggah-ungguh bukan hanya menjadi tanggung jawab anak muda semata, tetapi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Orang tua, guru, tokoh masyarakat, serta lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Jika semua pihak dapat bekerja sama dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai kesopanan, maka unggah-ungguh tidak akan hilang meskipun zaman terus berubah.
Karena pada dasarnya, unggah-ungguh bukan sekadar tradisi lama yang harus dipertahankan, tetapi merupakan cerminan dari rasa hormat, kepedulian, dan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika nilai-nilai ini tetap diajarkan dari generasi ke generasi, maka kehidupan masyarakat akan tetap dipenuhi rasa saling menghargai, kehangatan, serta kebersamaan yang menjadi kekuatan utama dalam kehidupan sosial kita.