Takbiran keliling pernah menjadi salah satu warna paling meriah dalam menyambut malam kemenangan, terutama pada era 2000-an. Saat itu, gema takbir tidak hanya berkumandang dari masjid dan mushola, tetapi juga menggema di sepanjang jalan kampung, dibawa oleh iring-iringan pemuda yang penuh semangat dan kebersamaan. Suasana malam terasa begitu hidup, langit yang gelap justru dipenuhi cahaya lampu warna-warni, suara tabuhan, serta lantunan takbir yang saling bersahutan. Tradisi ini bukan sekadar perayaan, melainkan wujud nyata kebahagiaan setelah menuntaskan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Bagi banyak orang, takbiran keliling bukan hanya kegiatan rutin tahunan, tetapi juga momen yang ditunggu-tunggu. Ada rasa haru, bangga, sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu. Malam itu seolah menjadi penutup perjalanan panjang selama Ramadan perjalanan menahan diri, memperbaiki hati, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tak heran jika setiap langkah iring-iringan terasa begitu bermakna.
Tidak ketinggalan, para pemuda-pemudi dari Santren Catur Tunggal Depok Sleman juga turut ambil bagian dalam meramaikan suasana malam takbiran. Bahkan, persiapan sudah dimulai jauh sebelum malam yang dinanti tiba. Dua hari sebelumnya, para pemuda sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas kreatif. Mereka berkumpul di Balai RW, membawa peralatan, berdiskusi, dan membagi tugas. Ada yang bertanggung jawab pada dekorasi, ada yang mengurus perlengkapan suara, ada pula yang menyiapkan rute perjalanan.
Mereka bahu-membahu menghias mobil yang akan digunakan untuk takbiran keliling. Lampu-lampu warna-warni dipasang dengan penuh ketelitian, menciptakan nuansa gemerlap yang indah saat melintas di jalanan malam. Tidak jarang, mereka juga menambahkan ornamen-ornamen khas, seperti miniatur masjid, kaligrafi, hingga hiasan berbentuk bulan sabit dan bintang. Semua dikerjakan dengan penuh semangat, tanpa mengenal lelah, karena mereka tahu hasilnya akan menjadi kebanggaan bersama.
Di sela-sela kesibukan itu, canda dan tawa tak pernah absen. Kebersamaan terasa begitu hangat. Ada yang saling menggoda, ada yang berbagi cerita lama, bahkan ada yang sekadar duduk sambil menikmati kopi dan camilan sederhana. Momen-momen seperti inilah yang sering kali justru lebih dikenang daripada acara utamanya. Karena di sanalah terjalin kedekatan yang tulus, tanpa sekat.
Tidak ketinggalan beberapa orangtua dan anak mengiringi takbiran tersebut, menambah hangat suasana kebersamaan yang terasa begitu kental. Kehadiran mereka seakan menjadi pelengkap yang menyempurnakan makna dari kegiatan ini. Anak-anak terlihat begitu antusias, berjalan atau duduk di kendaraan sambil melambaikan tangan, sesekali ikut melantunkan takbir dengan suara polos mereka. Sementara para orangtua mengawasi dengan penuh kebanggaan, melihat generasi muda tetap menjaga tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, unsur seni tradisional juga menjadi daya tarik tersendiri. Alunan gamelan yang khas dipadukan dengan dentuman drum modern menghadirkan harmoni yang unik tradisional namun tetap energik. Bunyi kenong, gong, dan saron berpadu dengan ritme drum yang dinamis, menciptakan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga berkarakter. Perpaduan ini bukan hanya menghidupkan suasana, tetapi juga menjadi simbol bahwa budaya lama dan semangat generasi muda dapat berjalan beriringan.
Sepanjang perjalanan, warga kampung keluar dari rumah masing-masing. Ada yang berdiri di depan pagar, ada yang duduk santai di teras, bahkan ada yang ikut berjalan di belakang rombongan. Mereka menyambut dengan senyum, lambaian tangan, atau sekadar tatapan penuh rasa bahagia. Malam itu benar-benar menjadi milik bersama—tidak ada perbedaan usia, status, atau latar belakang. Semua larut dalam satu suasana yang sama.
Tak jarang pula, iring-iringan berhenti sejenak di beberapa titik. Selain untuk beristirahat, momen ini juga digunakan untuk memperkuat kebersamaan. Ada yang membagikan minuman, ada yang berbagi makanan ringan, bahkan ada yang memanfaatkan waktu tersebut untuk berfoto bersama. Kenangan-kenangan kecil seperti ini sering kali menjadi cerita yang terus diulang di tahun-tahun berikutnya.
“Tujuan utama dari takbiran keliling ini tentu saja sebagai bentuk rasa syukur. Setelah menjalani ibadah puasa dengan segala tantangan dan pengorbanan, malam takbiran menjadi momen untuk meluapkan kebahagiaan sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga, khususnya di kalangan pemuda“, Kata Maman salah satu panitia Takbiran. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar, belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga tradisi.
“Pada tahun ini, takbiran keliling di Santren Catur Tunggal diikuti oleh kurang lebih 40 peserta, yang terdiri dari pemuda dan pemudi, bahwa beberapa orangtua dan anak-anak juga ikut keliling sebagai bentuk kebahagiaan“, imbuh Maman. Jumlah ini mungkin tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, namun semangat yang ditunjukkan tetap luar biasa. Bahkan, dalam keterbatasan, justru terlihat kekompakan yang lebih erat.
Maman juga menyampaikan bahwa “yang terpenting bukanlah jumlah peserta, melainkan kualitas kebersamaan yang terbangun”. Ia merasa bangga melihat generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap tradisi ini. Menurutnya, di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, menjaga tradisi seperti takbiran keliling adalah tantangan tersendiri. Namun selama masih ada kemauan dan kebersamaan, tradisi ini akan tetap hidup.
Jumlah peserta ini mencerminkan antusiasme yang tetap terjaga, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat di hati generasi muda. Kebersamaan, kreativitas, dan semangat gotong royong yang terpancar dari kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan masih terus hidup dan dilestarikan.
Lebih jauh lagi, takbiran keliling juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai tersebut kepada generasi yang lebih muda. Anak-anak yang ikut serta tidak hanya menikmati suasana, tetapi juga belajar tentang arti kebersamaan, rasa syukur, dan pentingnya menjaga warisan budaya. Dari sinilah, tradisi akan terus berlanjut—dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Seiring waktu, mungkin bentuk dan pelaksanaannya akan mengalami perubahan. Teknologi akan semakin berkembang, gaya hidup akan semakin modern. Namun selama nilai-nilai dasar dari tradisi ini tetap dijaga, maka esensinya tidak akan pernah hilang. Takbiran keliling akan selalu menjadi simbol kebersamaan, kegembiraan, dan rasa syukur.
Takbiran keliling bukan sekadar iring-iringan atau hiburan semata. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang semangat muda yang ingin terus menjaga tradisi, dan tentang rasa syukur yang diwujudkan dalam gema takbir yang menggema hingga ke penjuru kampung. Ia adalah ruang di mana tawa, doa, dan harapan saling bertemu dalam satu harmoni yang indah.
Sebuah tradisi yang sederhana, namun penuh makna dan kenangan. Tradisi yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi menyimpan nilai yang begitu dalam bagi mereka yang menjalaninya. Dan selama masih ada kebersamaan, selama masih ada semangat untuk menjaga, takbiran keliling akan selalu menjadi bagian dari cerita indah setiap malam kemenangan.
Kahana RT18
Dok Foto : Maman & AO
