Pertemuan warga Santren bukanlah sesuatu yang lahir secara tiba-tiba, bukan pula sekadar rutinitas tanpa makna. Ia adalah buah dari perjuangan panjang para pendahulu kita sejak tahun 70-an—sebuah masa di mana segala sesuatu masih serba sederhana, bahkan jauh sebelum adanya perangkat RW seperti sekarang. Namun di tengah keterbatasan itu, justru tumbuh semangat luar biasa: semangat untuk menyatukan warga, mempererat silaturahmi, dan membangun kebersamaan demi kebaikan kampung Santren.

Para pendahulu kita telah menanamkan fondasi yang kuat. Mereka tidak hanya berkumpul, tetapi benar-benar berjuang. Untuk mempertemukan warga yang memiliki kesibukan, latar belakang, serta karakter yang berbeda-beda bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan, baik waktu, tenaga, bahkan materiil. Mereka rela meninggalkan kepentingan pribadi demi satu tujuan bersama: menjaga kekompakan dan membangun kampung yang rukun dan harmonis.

Apa yang mereka rintis bukan sekadar pertemuan, melainkan sebuah warisan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa memiliki. Dari pertemuan itulah lahir banyak hal: keputusan bersama, solusi atas persoalan warga, hingga hubungan kekeluargaan yang erat antar sesama.

Namun, jika kita melihat kondisi dalam empat tahun terakhir, kita tidak bisa menutup mata bahwa semangat itu mulai mengalami penurunan. Kehadiran warga dalam pertemuan rutin RW dan JPS semakin berkurang, tidak lagi sebanding dengan jumlah warga yang ada. Jika dahulu kehadiran bisa mencapai paling sedikit 50 orang, kini seringkali tidak lebih dari 30 warga yang hadir. Ini tentu bukan sekadar perubahan angka, tetapi sebuah tanda bahwa kebersamaan yang dulu kuat kini mulai merenggang.

Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Karena ketika kehadiran berkurang, maka ruang untuk saling mengenal, saling mendengar, dan saling peduli juga semakin sempit. Padahal, kekuatan sebuah kampung bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi pada kekompakan dan kebersamaan warganya.

Pengurus yang ada selama ini tidak pernah berhenti mengajak. Dengan penuh kesabaran dan harapan, mereka terus mengundang warga untuk hadir meskipun hanya sebentar agar bisa bertatap muka, bersilaturahmi, dan bermusyawarah demi kemajuan kampung Santren. Ajakan tersebut bukanlah formalitas, melainkan bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.

Namun tentu, semua itu tidak akan berarti tanpa partisipasi kita bersama. Kampung ini bukan milik segelintir orang, tetapi milik kita semua. Di sinilah kita tinggal, di sinilah kita berinteraksi, dan di sinilah anak-anak kita tumbuh dan berkembang. Maka sudah sepatutnya kita ikut ambil bagian dalam menjaga dan memajukannya.

Mari kita rapatkan barisan. Mari kita bangkitkan kembali semangat kebersamaan yang pernah begitu kuat. Kita semua memahami bahwa saat ini banyak dari kita disibukkan oleh tuntutan pekerjaan dan urusan masing-masing. Namun, di tengah kesibukan tersebut, marilah kita sempatkan waktu, setidaknya satu kali dalam selapan hari untuk hadir bersama dalam pertemuan RW dan JPS.

Waktu yang kita luangkan mungkin terasa kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Kehadiran kita adalah bentuk dukungan, adalah wujud kepedulian, dan adalah langkah nyata untuk menjaga warisan perjuangan para pendahulu kita agar tidak hilang begitu saja.

Jangan sampai apa yang telah dibangun dengan penuh pengorbanan itu perlahan pudar karena kita abai. Jangan sampai generasi setelah kita kehilangan ruang kebersamaan hanya karena kita tidak menjaganya hari ini.

Mari kita hadir, bukan karena terpaksa, tetapi karena kesadaran. Bukan karena undangan semata, tetapi karena rasa memiliki. Karena dari kehadiran itulah, kebersamaan akan kembali tumbuh, komunikasi akan terjalin, dan kekuatan warga akan kembali terbangun.

Santren yang rukun, kompak, dan maju bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia bisa terwujud jika kita semua mau melangkah bersama, saling peduli, dan saling menguatkan.

Mari kita mulai dari langkah sederhana, namun penuh makna: hadir dalam pertemuan berikutnya. Bersama kita jaga, bersama kita rawat, dan bersama kita lanjutkan perjuangan para pendahulu kita.

Sejarah Singkat Berdirinya JPS dan RW Santren

 

 

 

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x