Mencari manusia yang sempurna adalah sesuatu yang mustahil. Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya benar, sepenuhnya baik, dan tanpa kekurangan. Setiap manusia memiliki karakter, kebiasaan, cara berpikir, pengalaman hidup, serta latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan itulah yang membentuk cara seseorang berbicara, bersikap, mengambil keputusan, bahkan memperlakukan orang lain.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita sering lupa bahwa setiap orang sedang menjalani perjalanan hidupnya masing-masing. Kita cenderung menilai orang lain hanya berdasarkan apa yang kita lihat dalam waktu singkat. Seseorang dianggap sombong karena tidak banyak bicara, dianggap tidak peduli karena tidak menunjukkan perhatian seperti yang kita harapkan, atau bahkan dianggap buruk hanya karena satu sikap yang sebenarnya belum tentu menggambarkan keseluruhan dirinya.
Padahal, apa yang tampak di hadapan kita belum tentu merupakan keseluruhan cerita.
Ada orang yang terlihat keras tetapi sebenarnya berhati lembut. Ada yang tampak cuek, tetapi diam-diam selalu memperhatikan. Ada pula yang terlihat ceria, padahal sedang menyimpan persoalan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun. Sebaliknya, ada orang yang tampak tenang, padahal sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya.
Karena itulah, kita perlu belajar untuk tidak terlalu cepat memberikan penilaian.
Setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Ada yang terbiasa berbicara secara terbuka, ada yang lebih nyaman menyimpan perasaannya. Ada yang cepat mengambil keputusan, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk berpikir. Ada yang sangat disiplin, sementara yang lain memiliki kebiasaan yang lebih santai. Ada yang mudah bergaul, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dengan lingkungan baru.
Perbedaan seperti ini sering menjadi persoalan ketika kita mulai menganggap bahwa cara kitalah yang paling benar. Kita ingin orang lain berbicara seperti kita, berpikir seperti kita, bertindak seperti kita, bahkan memiliki kebiasaan yang sama dengan kita. Ketika mereka tidak sesuai dengan harapan, muncullah rasa kecewa, kesal, marah, bahkan keinginan untuk menjauh.
Kita lupa bahwa orang lain bukanlah salinan dari diri kita.
Setiap manusia adalah pribadi yang unik. Tidak ada dua orang yang memiliki perjalanan hidup yang benar-benar sama. Keluarga tempat seseorang dibesarkan, pendidikan yang diterima, lingkungan yang dijalani, keberhasilan yang pernah diraih, kegagalan, bahkan luka dalam hidupnya, semua ikut membentuk dirinya hari ini.
Oleh sebab itu, sangat wajar jika seseorang memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita. Dan perbedaan tidak selalu berarti salah.
Tidak semua orang harus setuju dengan pendapat kita. Tidak semua orang harus menyukai apa yang kita sukai. Tidak semua orang harus mengikuti cara kita. Kedewasaan bukan berarti mampu membuat semua orang mengikuti keinginan kita. Kedewasaan justru terlihat ketika kita mampu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan berpikir dan bertindak seperti kita.
Kita boleh memiliki pendapat, tetapi jangan merasa bahwa pendapat kita adalah satu-satunya kebenaran. Kita boleh memberikan saran, tetapi jangan memaksakan kehendak. Kita boleh tidak menyukai sikap seseorang, tetapi tetaplah menghormati dirinya sebagai manusia. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu menghilangkan rasa persaudaraan dan kemanusiaan.
Yang sering menjadi persoalan adalah kita terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa melihat diri sendiri.
Kita mungkin merasa terganggu oleh kebiasaan seseorang, tetapi tanpa sadar kita pun memiliki kebiasaan yang mengganggu orang lain. Kita kecewa karena seseorang tidak memahami perasaan kita, tetapi apakah kita sudah berusaha memahami perasaannya? Kita berharap orang lain sabar menghadapi kekurangan kita, tetapi apakah kita sendiri sudah cukup sabar menghadapi kekurangannya?
Sering kali kita menuntut pengertian, tetapi lupa memberikan pengertian.
Kita ingin diterima apa adanya, tetapi sulit menerima orang lain apa adanya. Kita ingin kesalahan kita dimaklumi, tetapi begitu mudah mengingat kesalahan orang lain. Kita berharap orang lain memahami keadaan kita, tetapi kadang tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan keadaan mereka.
Padahal, masing-masing dari kita memiliki kekurangan. Ada kebiasaan yang mungkin kita anggap biasa, tetapi membuat orang lain tidak nyaman. Ada cara bicara yang menurut kita jujur, tetapi terdengar kasar bagi orang lain. Ada sikap yang kita anggap tegas, tetapi bisa saja dipahami sebagai keras kepala. Bahkan, terkadang kita sendiri tidak menyadari kekurangan dan kebiasaan tersebut.
Karena itulah, kita membutuhkan kerendahan hati.
Kerendahan hati membuat kita menyadari bahwa kita pun masih harus belajar. Kita tidak selalu benar. Kita tidak selalu mengetahui semua keadaan. Kita tidak selalu memahami alasan di balik tindakan seseorang. Dengan kerendahan hati, kita belajar mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan mencari penjelasan sebelum mengambil kesimpulan.
Betapa banyak persoalan yang sebenarnya dapat dihindari jika kita mau berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Sebuah perkataan bisa terasa menyakitkan karena kita sedang berada dalam keadaan emosi. Sebuah sikap diam bisa kita artikan sebagai ketidaksukaan, padahal mungkin orang tersebut sedang menghadapi persoalan. Ketika kita langsung menyimpulkan tanpa bertanya dan tanpa berusaha memahami, kita sebenarnya sedang membangun jarak karena pikiran dan prasangka kita sendiri.
Karena itu, memahami adalah langkah penting sebelum menghakimi.
Memahami bukan berarti selalu membenarkan semua tindakan seseorang. Menghormati perbedaan juga bukan berarti kita harus menyetujui semua hal. Ada kesalahan yang memang perlu diingatkan dan ada perilaku yang perlu diperbaiki. Namun, cara menyampaikan perbedaan dan mengingatkan seseorang tetap harus dilandasi rasa hormat.
Kita bisa tidak setuju tanpa harus menghina.
Kita bisa mengkritik tanpa harus merendahkan.
Kita bisa mengingatkan tanpa harus mempermalukan.
Kita bisa memilih jalan yang berbeda tanpa harus menganggap orang lain sebagai musuh.
Dalam keluarga, pertemanan, organisasi, komunitas, maupun masyarakat, perbedaan pasti akan selalu ada. Semakin banyak orang berkumpul, semakin banyak pula karakter dan pemikiran yang harus dipahami. Kebersamaan bukan berarti semua orang harus sama. Kebersamaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama meskipun memiliki banyak perbedaan.
Kita mungkin tidak selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi masih bisa saling menghargai. Kita mungkin memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan, tetapi tetap dapat mencari jalan tengah. Kita mungkin pernah kecewa satu sama lain, tetapi dapat memilih untuk berbicara dan memperbaiki hubungan daripada membiarkan kesalahpahaman semakin besar.
Hubungan yang baik bukanlah hubungan yang tidak pernah memiliki masalah. Hubungan yang baik adalah hubungan yang memiliki kesediaan untuk menyelesaikan masalah dengan hati dan pikiran yang terbuka.
Memaafkan membutuhkan kebesaran hati. Memahami membutuhkan kesabaran. Mendengarkan membutuhkan kerendahan hati. Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian. Terlebih ketika kita merasa bahwa kitalah yang paling benar. Namun, justru di situlah kedewasaan kita diuji.
Apakah kita tetap mampu menghormati seseorang ketika tidak setuju dengannya? Apakah kita masih mampu menjaga perkataan ketika sedang marah? Apakah kita mampu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan? Dan apakah kita berani mengakui bahwa mungkin kita juga pernah salah?
Sebab hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mencari kesalahan orang lain. Daripada sibuk menuntut orang lain menjadi sempurna, lebih baik kita belajar menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Daripada memelihara kebencian karena perbedaan, lebih baik kita membuka ruang untuk saling memahami.
Setiap orang sedang belajar dan berproses. Ada yang sedang belajar menjadi lebih sabar, mengendalikan emosi, menerima keadaan, atau memperbaiki kebiasaan buruknya. Ada pula yang masih melakukan kesalahan, bukan karena tidak ingin berubah, tetapi karena perubahan memang membutuhkan waktu.
Kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan yang sedang dilakukan seseorang di dalam dirinya.
Mungkin orang yang kita anggap menyebalkan sebenarnya sedang berusaha menjadi lebih baik. Mungkin orang yang pernah melakukan kesalahan sedang menyesali tindakannya. Mungkin orang yang sulit kita pahami sebenarnya juga sedang berusaha memahami dirinya sendiri.
Oleh karena itu, jangan terlalu cepat menutup pintu hanya karena satu kesalahan, satu perbedaan, atau satu sikap yang tidak sesuai dengan harapan kita. Berikan ruang kepada orang lain untuk bertumbuh, sebagaimana kita juga berharap diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Pada akhirnya, menerima perbedaan bukan berarti menghilangkan prinsip hidup kita. Kita tetap boleh memiliki keyakinan, pendapat, dan nilai-nilai yang kita pegang. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa orang lain memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri. Yang perlu kita pahami adalah perbedaan antara berpegang teguh pada prinsip dan memaksakan prinsip kepada orang lain.
Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan kita dapat belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Dunia tidak hanya terdiri dari cara pandang kita sendiri.
Maka, mari belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana:
–Mendengarkan sebelum menyimpulkan,
–Memahami sebelum menghakimi,
–Bertanya sebelum menuduh, dan
–Menghormati meskipun tidak selalu sependapat.
Jangan mencari manusia yang sempurna, karena kita tidak akan pernah menemukannya. Jangan pula menuntut orang lain untuk selalu sesuai dengan keinginan kita. Yang kita perlukan bukanlah kesempurnaan, melainkan hati yang cukup luas untuk menerima perbedaan dan pikiran yang cukup jernih untuk memahami orang lain.
Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan. Tidak semua persoalan harus berakhir dengan permusuhan. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah sedikit kesabaran, sedikit kerendahan hati, dan sedikit waktu untuk mencoba memahami.
Sebelum menilai seseorang, ingatlah bahwa kita tidak mengetahui seluruh cerita hidupnya.
Sebelum marah, cobalah memahami.
Sebelum menghakimi, cobalah mendengarkan.
Sebelum menuduh, cobalah bertanya.
Sebelum menjauh, cobalah berbicara.
Dan sebelum menuntut orang lain berubah, cobalah terlebih dahulu melihat ke dalam diri sendiri.
Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari, tetapi cara kita menyikapi perbedaan adalah pilihan. Mari memilih untuk saling menghormati, saling memahami, dan tetap menjaga kemanusiaan. Karena bukan kesamaan yang selalu menyatukan kita, melainkan kesediaan untuk tetap saling menerima meskipun kita berbeda.
Oleh : Kahana
