Tahun ini terasa begitu istimewa. Langit seakan menyaksikan dua perjalanan spiritual yang berjalan beriringan: umat Muslim menunaikan ibadah di bulan suci Ramadan, sementara umat Nasrani menapaki puasa masa Prapaskah. Dua tradisi yang berbeda, dua cara yang tidak sama, namun berujung pada tujuan yang serupa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, membersihkan hati, menata kembali niat, serta menumbuhkan kasih yang lebih dalam kepada sesama.
Di balik lapar yang ditahan dan doa yang dipanjatkan, ada proses pendewasaan jiwa. Ada pengendalian diri, ada keheningan untuk merenung, ada ruang untuk menyadari betapa kita semua adalah manusia yang saling membutuhkan. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi belajar menahan ego, meredam amarah, dan membuka pintu maaf.
Momentum ini mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami. Toleransi bukan sekadar ucapan indah di bibir atau tulisan di media sosial. Toleransi adalah sikap yang hidup terlihat dalam cara kita menghormati, dalam kesediaan kita menjaga perasaan, dan dalam ketulusan kita membantu tanpa bertanya tentang keyakinan.
Kita boleh berbeda dalam cara berdoa, tetapi kita sama dalam harapan akan kebaikan. Kita mungkin menyebut nama Tuhan dengan bahasa yang berbeda, namun kita dipanggil untuk menebar cinta yang sama. Karena pada akhirnya, iman yang sejati akan selalu melahirkan kasih, dan kasih yang tulus akan selalu menghadirkan damai.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi saudara-saudaraku umat Muslim di bulan Ramadan dan saudara-saudaraku umat Nasrani dalam masa Prapaskah. Semoga setiap rasa lapar menjadikan kita lebih peka, setiap doa menjadikan kita lebih rendah hati, dan setiap langkah iman kita semakin merajut persaudaraan di negeri tercinta.
Semoga dari perbedaan yang indah ini, lahir kedamaian yang nyata.
Khn180226

