Pagi hari di Kampung Santren dulu selalu punya bunyi yang khas. Bukan hanya suara ayam berkokok atau lantunan adzan Subuh dari Masjid Santren, tetapi juga suara yang lain, suara kehidupan.
Suara plastik kresek dibuka, bakul sayur diturunkan dari sepeda motor, tawa ibu-ibu yang saling menyapa, dan tawar-menawar yang akrab di telinga. Di situlah Pasar Santren berdiri. Sederhana, kecil, tapi penuh arti.
Sudah lebih dari lima belas tahun pasar ini menjadi bagian dari keseharian warga. Bukan pasar besar dengan bangunan megah, melainkan deretan lapak seadanya di tepi jalan kampung. Namun justru di situlah hangatnya terasa. Nama-nama pedagangnya begitu melekat dalam ingatan.
Bu Pon dengan sayur segar dan bahan dapurny. Pak Dul berbagai macam ikan laut, Bu Siyem dengan jajanannya, Bu Nuk, Bu Jilah, Bu Kamto, Bu Ituk, dan lainnya.

Mereka bukan sekadar penjual. Mereka adalah wajah-wajah yang setiap hari menyapa, menanyakan kabar, kadang memberi utang kecil untuk tetangga yang belum sempat membayar. Pasar ini bukan cuma tempat transaksi, tapi tempat bertukar cerita.
Bagi warga, keberadaan pasar adalah kemudahan yang nyata. Tak perlu jauh-jauh ke pasar kota. Tak perlu ongkos kendaraan. Cukup berjalan kaki atau naik sepeda sebentar, kebutuhan dapur sudah terpenuhi.
Akses jalannya pun mudah. Pedagang bisa langsung menurunkan dagangan dari kendaraan tanpa repot. Pembeli juga nyaman berbelanja. Semua terasa dekat, praktis, dan bersahabat.
Dari pasar kecil itu, rezeki berputar. Ekonomi tumbuh pelan-pelan. Silaturahmi terjalin tanpa direncanakan. Namun seperti halnya kehidupan, pasar juga punya dua sisi. Sampah dagangan harus cepat dibersihkan agar tidak mengganggu kebersihan. Untung dan rugi datang bersamaan. Meski begitu, bagi banyak orang, Pasar Santren tetap lebih banyak membawa manfaat.
Sayangnya, waktu tak pernah diam. Perlahan, satu per satu pedagang mulai menghilang. Lapak yang dulu penuh kini kosong. Tanpa perpisahan, tanpa penjelasan, tanpa kesan dan pesan dari para penjual. Seakan pergi begitu saja, meninggalkan kenangan.
Suasana yang dulu riuh berubah lengang. Kini, Pasar Santren tak lagi seramai dulu. Hanya dua yang masih setia bertahan: Bu Pon dan Mbok Siyem. Setiap pagi, mereka tetap datang. Menggelar dagangan seperti biasa. Menata sayur, menunggu pembeli. Seolah menjaga denyut terakhir agar pasar ini tetap hidup.
Mungkin bagi sebagian orang, ini hanya pasar kecil.Tapi bagi warga Santren, ini adalah bagian dari sejarah kampung. Tempat tumbuhnya rezeki, persahabatan, dan kenangan masa lalu.
Pasar Santren mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kehidupan kampung tak selalu diukur dari besar kecilnya bangunan, melainkan dari kebersamaan orang-orang di dalamnya.
Meski kini lebih sunyi, jejak riuhnya masih terasa. Dalam ingatan. Dalam cerita. Dan dalam harapan, semoga suatu hari nanti, Pasar Santren kembali hidup seperti dulu.
Khn020226
2 tanggapan untuk “Pasar Santren: Riuh yang Pernah Hidup, Sunyi yang Kini Tersisa”
-
Narasinya bagus sekali…..
Kalau tidak salah pasar Santren awalnya di jl. Gejayan timur jalan, menggunakan lahan Bp. Tris (alm), dan pinggir jalan, tahun berapa yah lupa, mungkin 80an. Trus kemudian pindah di timur selokan, rame sekali karena hampir semua warga Santren berbelanja disitu, sekarang kok tinggal 2 ya -
Dulu sering beli jajanan tiwul dan Gatot sewaktu masih di jalan Gejayan…. kenangan banget

Tinggalkan Balasan ke Bunda Batalkan balasan