Menjaga Kehormatan Diri melalui Tutur Kata dan Kesopanan Berpakaian

Dalam budaya Jawa, terdapat ungkapan luhur yang mengandung tuntunan hidup, yaitu “Ajining diri ana ing lathi, ajining sarira ana ing busana.” Artinya, kehormatan diri seseorang tercermin dari tutur katanya, sedangkan penghargaan terhadap dirinya juga dapat terlihat dari cara ia berpakaian.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak cukup dinilai dari kekayaan, jabatan, pendidikan, atau kedudukan sosialnya. Ada dua hal sederhana yang sering kali justru lebih dahulu diperhatikan orang lain, yaitu bagaimana seseorang berbicara dan bagaimana ia membawa dirinya melalui penampilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah menjumpai orang yang sebenarnya pandai dan memiliki kedudukan tinggi, tetapi kurang dihormati karena tutur katanya kasar. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi sangat dihargai karena sopan, jujur, dan mampu menjaga perasaan orang lain.

Demikian pula dalam berpakaian. Seseorang tidak harus mengenakan pakaian mahal untuk terlihat terhormat. Pakaian yang bersih, rapi, dan sesuai dengan keadaan sudah menunjukkan bahwa dirinya menghargai diri sendiri serta orang-orang yang dijumpainya.

Oleh karena itu, ungkapan tersebut bukan sekadar warisan leluhur yang dihafalkan, melainkan pedoman yang perlu diterapkan dalam tindakan nyata. Baik ketika berbicara dengan keluarga, bergaul dengan tetangga, bekerja, menghadiri pertemuan, menggunakan media sosial, maupun menerima tamu di rumah.

A. Ajining Diri Ana ing Lathi: Kehormatan Diri Terletak pada Tutur Kata

Lathi berarti lidah atau perkataan. Dalam kehidupan sehari-hari, perkataan menjadi salah satu cermin kepribadian seseorang. Melalui kata-kata, kita dapat menumbuhkan rasa percaya, mempererat persaudaraan, dan menyelesaikan persoalan. Namun, melalui kata-kata pula kita dapat melukai hati, merusak hubungan, bahkan menimbulkan permusuhan.

Karena itu, menjaga lisan bukan perkara sepele. Orang yang mampu mengendalikan perkataannya menunjukkan bahwa dirinya juga belajar mengendalikan pikiran dan emosi.

1. Membiasakan tutur kata yang baik di lingkungan keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar berbicara dan menghargai orang lain. Namun, justru di dalam keluarga, seseorang terkadang merasa paling bebas berkata-kata tanpa memikirkan perasaan anggota keluarganya.

Contohnya, ketika seorang ibu meminta anaknya membantu pekerjaan rumah, anak tersebut menjawab dengan nada tinggi, “Ibu, jangan menyuruh-nyuruh terus! Saya juga capek!”

Barangkali anak itu memang sedang lelah. Namun, kelelahan bukan alasan untuk berbicara kasar kepada orang tua. Jawaban yang lebih baik adalah, “Iya, Bu. Saya istirahat sebentar, setelah itu saya bantu.”

Pesannya tetap tersampaikan, tetapi dengan cara yang lebih menghormati.

Begitu pula ketika orang tua menasihati anak. Nasihat yang disampaikan dengan bentakan, hinaan, atau perbandingan yang merendahkan dapat membuat anak merasa terluka. Sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan tenang dan penuh kasih sayang lebih memungkinkan anak memahami kesalahannya.

Dari contoh tersebut, kita belajar bahwa kesopanan tidak hanya ditujukan kepada orang di luar rumah. Justru, orang tua, pasangan, anak, dan saudara merupakan orang-orang yang paling berhak menerima tutur kata yang baik dari kita.

Jangan sampai kita mampu tersenyum dan berbicara manis kepada orang lain, tetapi bersikap kasar kepada keluarga sendiri.

2. Mampu menempatkan diri sesuai situasi dan lawan bicara

Dalam budaya Jawa, dikenal pentingnya kemampuan menempatkan diri atau memahami papan, empan, adepan. Intinya, seseorang perlu menyesuaikan perkataan dan sikap dengan tempat, keadaan, serta siapa yang sedang diajak berbicara.

Misalnya, ketika berkumpul bersama teman sebaya, kita mungkin dapat berbicara santai dan bercanda. Namun, ketika berada dalam rapat warga, menghadiri pertemuan resmi, atau berbicara kepada orang yang lebih tua, kita perlu menggunakan bahasa dan sikap yang lebih tertata.

Bayangkan seseorang sedang menghadiri rapat RT. Ketika ketua RT menyampaikan persoalan kebersihan lingkungan, ia langsung memotong pembicaraan dan berkata, “Ah, itu saja tidak becus mengurusnya!”

Mungkin ia memiliki kritik yang benar, tetapi cara menyampaikannya tidak menunjukkan penghormatan. Akibatnya, orang lain dapat tersinggung dan persoalan yang seharusnya diselesaikan bersama justru berkembang menjadi pertengkaran.

Akan lebih baik jika ia mengatakan, “Mohon izin, Pak. Menurut saya, masalah sampah ini perlu kita cari solusinya bersama. Mungkin kita bisa membuat jadwal kerja bakti dan menentukan tempat pembuangan sementara.”

Isi kritiknya tetap tegas, tetapi disampaikan dengan santun dan menawarkan jalan keluar.

Inilah pentingnya menempatkan diri. Kita tidak harus selalu setuju dengan orang lain, tetapi kita perlu belajar menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan martabatnya.

3. Mengolah perkataan agar manis didengar dan baik maksudnya

Ada ungkapan yang mengingatkan kita tentang pentingnya perkataan yang manis, bahkan sering digambarkan dengan istilah pahit madu. Dalam kehidupan, perkataan yang baik bukan berarti selalu memuji atau mengatakan hal yang menyenangkan. Terkadang, kita harus menyampaikan teguran yang tidak mudah diterima. Namun, teguran itu dapat disampaikan dengan cara yang tidak menyakiti.

Misalnya, seorang tetangga memutar musik terlalu keras pada malam hari. Kita tentu berhak merasa terganggu. Akan tetapi, mendatanginya sambil marah dan berkata, “Kamu ini tidak punya aturan!” dapat memancing pertengkaran.

Kita dapat memilih cara yang lebih bijaksana, seperti mengatakan, “Maaf, Pak, musiknya terdengar sampai rumah kami. Kalau tidak keberatan, volumenya bisa sedikit dikecilkan? Anak-anak sudah waktunya tidur.”

Dengan cara demikian, persoalan dapat disampaikan secara jelas tanpa mempermalukan orang lain.

Contoh lain terjadi ketika seorang teman melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Daripada mengatakan, “Kamu memang selalu ceroboh,” kita dapat menyampaikan, “Bagian ini masih ada yang perlu diperbaiki. Mari kita periksa bersama supaya hasilnya lebih baik.”

Perbedaan kedua kalimat tersebut sangat jelas. Kalimat pertama menyerang pribadi seseorang, sedangkan kalimat kedua membahas kesalahannya sekaligus membuka kesempatan untuk memperbaiki diri.

Maka, sebelum berbicara, biasakanlah menyaring perkataan melalui hati dan pikiran. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar, apakah perlu disampaikan, dan apakah cara penyampaiannya sudah tepat?

Sebab, perkataan yang sudah terucap sulit ditarik kembali. Luka akibat ucapan terkadang bertahan lama, meskipun orang yang mengucapkannya telah melupakan kejadian tersebut.

4. Menjaga unggah-ungguh kepada orang tua, guru, dan sesama

Unggah-ungguh bukan hanya persoalan bahasa Jawa krama atau ngoko, melainkan juga sikap menghormati orang lain melalui pilihan kata, nada suara, ekspresi wajah, dan perilaku.

Contohnya, ketika bertemu orang yang lebih tua di jalan, kita dapat menyapa dengan ramah. Ketika berbicara kepada guru, kita mendengarkan penjelasannya dan tidak memotong pembicaraan dengan sikap meremehkan. Ketika meminta bantuan kepada orang lain, kita mengucapkan kata tolong, dan setelah menerima bantuan, kita tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi menunjukkan kualitas budi pekerti seseorang.

Unggah-ungguh juga tidak berarti orang yang lebih muda harus selalu diam atau tidak boleh memberikan pendapat. Jika melihat kekeliruan, kita tetap dapat menyampaikan pendapat, tetapi dengan cara yang tepat dan penuh penghormatan.

Demikian pula, orang yang lebih tua sebaiknya tidak menggunakan kedudukannya untuk merendahkan orang yang lebih muda. Rasa hormat akan tumbuh lebih kuat apabila diberikan dan diterima secara timbal balik.

5. Menjaga lisan ketika menggunakan media sosial

Pada zaman sekarang, ajaran ajining diri ana ing lathi juga berlaku dalam komunikasi digital. Jari yang mengetik di telepon genggam pada hakikatnya menyampaikan perkataan melalui tulisan.

Kita sering melihat seseorang yang dalam pertemuan langsung terlihat sopan, tetapi di media sosial mudah menghina, menyebarkan kabar yang belum jelas, atau menulis komentar yang merendahkan orang lain.

Contohnya, ketika melihat unggahan seseorang yang berbeda pendapat, kita mungkin tergoda menulis komentar kasar. Padahal, perbedaan pandangan tidak harus diakhiri dengan saling mencaci.

Begitu pula ketika menerima berita tentang tetangga atau tokoh masyarakat. Sebelum membagikannya ke grup WhatsApp, kita perlu memeriksa kebenarannya. Jangan sampai kita menyebarkan kabar yang ternyata tidak benar dan merusak nama baik seseorang.

Di ruang digital, kita tidak selalu dapat melihat langsung akibat dari perkataan kita. Namun, orang yang membacanya tetap mempunyai perasaan yang dapat terluka.

Karena itu, sebelum menekan tombol kirim, bacalah kembali tulisan kita. Jika kalimat tersebut tidak pantas disampaikan secara langsung di hadapan orang yang bersangkutan, kita patut mempertimbangkan apakah kalimat itu layak dipublikasikan.

Menjaga lisan pada masa kini berarti menjaga ucapan sekaligus menjaga tulisan.

B. Ajining Sarira Ana ing Busana: Kehormatan Diri Tercermin dari Cara Berpakaian

Busana merupakan bagian dari penampilan yang dapat menunjukkan kerapian, kepantasan, dan kesadaran seseorang terhadap lingkungan sosialnya. Namun, berpakaian yang baik tidak selalu berarti mengenakan pakaian mahal atau mengikuti mode terbaru.

Yang lebih penting adalah pakaian tersebut bersih, rapi, sesuai dengan kegiatan, serta memperhatikan norma kesopanan dan aturan yang berlaku.

1. Berpakaian sesuai dengan kegiatan dan tempat

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu tidak mengenakan pakaian yang sama untuk semua kegiatan. Pakaian untuk bekerja di kantor berbeda dengan pakaian untuk berolahraga. Busana untuk menghadiri pernikahan juga berbeda dengan pakaian untuk berkebun atau membersihkan rumah.

Misalnya, seseorang mendapat undangan menghadiri pernikahan tetangga. Ia tidak perlu membeli pakaian baru yang mahal. Cukup memilih pakaian yang bersih, rapi, dan sesuai dengan suasana acara.

Sebaliknya, jika menghadiri rapat resmi atau kegiatan keagamaan, kita perlu lebih memperhatikan kepantasan busana, termasuk ketentuan khusus yang berlaku dalam acara tersebut.

Hal serupa berlaku ketika menghadiri kegiatan di sekolah, tempat kerja, atau kantor pemerintahan. Berpakaian sesuai aturan menunjukkan bahwa kita menghormati lembaga, penyelenggara, dan orang-orang yang hadir.

Jadi, kepantasan berpakaian bukan tentang siapa yang paling mewah penampilannya, melainkan siapa yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi secara bijaksana.

2. Menghormati tamu melalui penampilan dan penyambutan

Dalam budaya Jawa, menerima tamu merupakan salah satu bentuk penghormatan yang perlu dijaga. Tamu tidak harus disambut dengan kemewahan, tetapi sebaiknya diterima dengan keramahan, sikap hormat, dan penampilan yang pantas.

Bayangkan suatu pagi, seorang tetangga datang ke rumah untuk menyampaikan kabar penting. Tuan rumah yang sedang mengenakan pakaian untuk bekerja di kebun dapat mempersilakan tamu masuk dan duduk terlebih dahulu. Jika memang perlu berganti pakaian, ia dapat meminta izin dengan sopan.

Tindakan tersebut bukan karena pakaian sehari-hari dianggap hina, melainkan sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap keadaan dan penghormatan kepada tamu.

Dalam tradisi Jawa, penyambutan tamu sering dikaitkan dengan nilai irengkuh, gupuh, aruh, lungguh, suguh, dan rengkuh. Nilai-nilai ini mengingatkan kita untuk menyambut tamu dengan hormat, segera memberikan perhatian, menyapa dengan ramah, mempersilakan duduk, menyuguhkan hidangan jika memungkinkan, serta membangun suasana yang akrab.

Penerapannya tidak harus mewah. Menyediakan segelas air putih, mempersilakan duduk di tempat yang bersih, dan mendengarkan keperluan tamu dengan sungguh-sungguh sudah menunjukkan keramahan.

Jangan sampai kita sibuk mempersiapkan hidangan, tetapi mengabaikan tamu yang sedang berbicara. Jangan pula kita mengenakan pakaian yang rapi, tetapi menyambut orang lain dengan wajah masam dan perkataan yang tidak menyenangkan.

Pakaian yang pantas perlu diiringi sikap yang pantas pula.

3. Menjaga kerapian tanpa memandang harga pakaian

Di lingkungan masyarakat, kita sering menjumpai orang yang merasa kurang percaya diri karena pakaiannya sederhana. Sebaliknya, ada pula orang yang merasa lebih tinggi daripada orang lain karena mengenakan pakaian mahal atau bermerek.

Cara pandang seperti itu perlu diluruskan. Harga pakaian tidak menentukan nilai kemanusiaan seseorang.

Seorang petani yang mengenakan pakaian kerja sederhana tetap layak dihormati. Seorang pedagang kecil dengan pakaian yang bersih dan rapi juga mempunyai martabat yang sama dengan orang yang mengenakan jas mahal.

Demikian pula, orang yang pakaiannya sudah lama tetapi dirawat dengan baik tidak patut direndahkan hanya karena tidak mengikuti perkembangan mode.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan, kerapian, kesesuaian dengan kegiatan, serta penghormatan terhadap norma yang berlaku.

Dengan demikian, ajaran ajining sarira ana ing busana bukan ajakan untuk berlomba-lomba dalam kemewahan, melainkan tuntunan agar kita menjaga penampilan secara bertanggung jawab tanpa merendahkan orang lain.

4. Berpakaian rapi sebagai wujud tanggung jawab terhadap diri sendiri

Kebiasaan menjaga penampilan sebaiknya dimulai dari rumah. Misalnya, sebelum berangkat bekerja, seseorang memeriksa apakah pakaiannya bersih, kancingnya lengkap, dan penampilannya sudah sesuai dengan ketentuan tempat kerja.

Seorang pelajar mempersiapkan seragam yang bersih dan rapi sebelum berangkat sekolah. Seorang pegawai mengenakan pakaian sesuai aturan kantor. Seseorang yang hendak menghadiri kegiatan masyarakat memilih busana yang pantas dan tidak mengganggu jalannya kegiatan.

Kebiasaan tersebut menunjukkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Kerapian juga tidak harus membutuhkan biaya besar. Mencuci pakaian secara teratur, menyetrika jika diperlukan, merawat pakaian agar tahan lama, dan memilih pakaian yang sesuai dengan kebutuhan merupakan bentuk kesederhanaan yang bijaksana.

Dengan demikian, kita dapat menjaga kehormatan diri tanpa harus memaksakan diri membeli pakaian di luar kemampuan ekonomi.

Penutup: Tutur Kata yang Baik, Penampilan yang Pantas, dan Budi Pekerti yang Luhur

Ungkapan “Ajining diri ana ing lathi, ajining sarira ana ing busana” mengandung pelajaran penting bahwa kehormatan diri perlu dijaga melalui perkataan dan penampilan.

Dalam kehidupan keluarga, kita menerapkannya dengan berbicara santun kepada orang tua, pasangan, anak, dan saudara. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita mewujudkannya dengan menghormati tetangga, menyampaikan kritik tanpa menghina, dan menjaga kerukunan. Dalam dunia kerja dan pendidikan, kita menunjukkannya melalui komunikasi yang sopan serta pakaian yang sesuai. Dalam media sosial, kita menerapkannya dengan tidak menyebarkan fitnah dan tidak menulis komentar yang merendahkan orang lain.

Begitu pula dalam berpakaian, kita tidak harus tampil mewah. Cukup menjaga kebersihan, kerapian, dan kepantasan sesuai dengan kegiatan, sambil tetap menghargai orang yang memiliki keadaan ekonomi dan pilihan busana yang berbeda.

Namun, ada satu hal yang perlu diingat: tutur kata yang manis dan pakaian yang rapi akan kehilangan maknanya jika tidak disertai perilaku yang baik. Jangan sampai kita pandai berkata santun di depan orang banyak, tetapi gemar menyakiti orang lain di belakangnya. Jangan sampai penampilan kita terlihat terhormat, tetapi tindakan kita tidak mencerminkan kejujuran dan tanggung jawab.

Kehormatan sejati lahir dari keselarasan antara perkataan, penampilan, dan perbuatan.

Maka, marilah kita membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara, menyesuaikan diri sebelum bertindak, dan menghormati orang lain tanpa memandang kedudukan maupun penampilannya.

Sebab, orang yang benar-benar mulia bukanlah orang yang paling keras suaranya, paling mahal pakaiannya, atau paling tinggi jabatannya, melainkan orang yang mampu menjaga lisannya, merawat budi pekertinya, dan menghadirkan manfaat bagi sesamanya.

Ajining diri ana ing lathi, ajining sarira ana ing busana. Kehormatan diri tercermin dari tutur kata, sedangkan kepantasan diri terlihat pula dari cara berpakaian. Semoga nilai luhur ini tidak berhenti sebagai ungkapan yang kita dengar, tetapi benar-benar menjadi pedoman yang kita praktikkan setiap hari.

Dengan menjaga lisan, kita merawat hubungan. Dengan menjaga penampilan, kita menunjukkan kepantasan. Dengan menjaga perilaku, kita membuktikan keluhuran budi pekerti.

Karena pada akhirnya, tutur kata yang baik akan menyejukkan hati, penampilan yang pantas akan menunjukkan penghormatan, dan perbuatan yang luhur akan membuat seseorang benar-benar dihargai.

Oleh : Triman Sumanto
Editor : Kahono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x