BELAJAR UNTUK BERKEMBANG

Buka Pikiran, Lepaskan Sentimen

SYARAT PERTAMA: OPEN MINDED

Kalau kita ingin belajar dan berkembang, ada satu syarat utama yang harus kita miliki: open minded atau berpikiran terbuka.

Belajar bukan sekadar menambah pengetahuan. Belajar adalah proses memperluas cara kita melihat sesuatu, memahami sudut pandang yang berbeda, dan menyadari bahwa apa yang selama ini kita anggap benar belum tentu merupakan satu-satunya kebenaran.

Orang yang ingin berkembang harus berani mengatakan:

“Saya masih banyak yang belum saya tahu.”

Kalimat sederhana ini justru menunjukkan bahwa seseorang memiliki ruang untuk terus belajar.

Jangan sampai pengalaman, jabatan, usia, pendidikan, atau keberhasilan yang pernah kita raih membuat kita merasa sudah paling tahu. Sebab dunia terus berubah, ilmu terus berkembang, dan selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari orang lain.

Open minded bukan berarti kita harus menerima semua pendapat tanpa berpikir. Bukan pula berarti kita harus selalu setuju dengan orang lain.

Open minded berarti bersedia mendengarkan terlebih dahulu sebelum menilai.

Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh tidak setuju. Kita boleh memiliki prinsip sendiri. Tetapi jangan menutup pintu hanya karena sesuatu disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.

Bisa jadi, dari orang yang tidak kita sukai justru ada ilmu yang selama ini kita butuhkan.

Karena itu, ketika sedang belajar, cobalah menempatkan diri sebagai seorang murid.

Dengarkan.

Amati.

Pahami.

Ambil yang baik.

Kemudian gunakan akal sehat untuk memilah mana yang sesuai dan bermanfaat bagi diri kita.

Orang yang pikirannya terbuka akan selalu menemukan sesuatu untuk dipelajari, bahkan dari pengalaman yang sederhana sekalipun.

Jangan Campurkan Ilmu dengan Sentimen Pribadi

SYARAT KEDUA: LEPASKAN SENTIMEN PRIBADI

Syarat berikutnya yang tidak kalah penting adalah jangan membawa sentimen pribadi ke dalam proses belajar.

Kadang-kadang kita tanpa sadar membuat batas:

“Saya mau belajar dari si A, karena saya cocok dengan dia.”

Tetapi ketika ilmu yang sama datang dari si B, kita berkata:

“Ah, saya tidak mau belajar dari dia. Saya tidak cocok.”

Di sinilah kita sering kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Sebab ilmu tidak pernah memilih siapa yang menyampaikannya.

Sebuah nasihat tetap bisa menjadi nasihat yang baik meskipun disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.

Sebuah pengalaman tetap bisa menjadi pelajaran meskipun datang dari orang yang berbeda pandangan dengan kita.

Bahkan terkadang, seseorang yang tidak terlalu dekat dengan kita justru dapat memberikan sudut pandang yang selama ini tidak pernah kita pikirkan.

Maka, jangan biarkan persoalan pribadi menghalangi proses kita dalam mencari ilmu.

Pisahkan antara orangnya dengan ilmunya.

“Kalau kita memiliki masalah pribadi dengan seseorang, selesaikan persoalan pribadinya. Tetapi ketika orang tersebut menyampaikan sesuatu yang bermanfaat, jangan buru-buru menolaknya hanya karena kita tidak menyukai orangnya”.

Begitu pula sebaliknya.

Jangan hanya menerima sebuah pendapat karena kita menyukai orang yang menyampaikannya.

Sukai orangnya boleh, tetapi tetap kritis terhadap ilmunya.
Tidak menyukai orangnya boleh, tetapi jangan otomatis menolak ilmunya.

Kedewasaan dalam belajar terlihat ketika kita mampu mengatakan:

“Saya mungkin tidak cocok dengan orangnya, tetapi saya bisa mengambil pelajaran dari apa yang disampaikannya.”

Itulah sikap seorang pembelajar.

Karena tujuan kita belajar bukan untuk mencari siapa yang harus kita sukai atau siapa yang harus kita benci.

Tujuan kita belajar adalah menjadi manusia yang lebih tahu, lebih bijaksana, dan lebih mampu memperbaiki diri.

Jangan Batasi Ilmu Karena Ego

JADILAH PEMBELAJAR SEJATI

Pada akhirnya, berkembang atau tidaknya diri kita sangat bergantung pada bagaimana kita menyikapi proses belajar.

Jangan hanya mau belajar dari orang yang sepemikiran dengan kita.

Jangan hanya mau mendengar dari orang yang kita sukai.

Jangan hanya menerima pendapat dari orang yang dekat dengan kita.

Karena kalau kita melakukan itu, sebenarnya kita sedang membangun ruang belajar yang sangat sempit.

Kita hanya akan mendengar apa yang ingin kita dengar.

Padahal, perkembangan sering kali dimulai ketika kita berani mendengar sesuatu yang berbeda.

Mungkin kita tidak setuju.

Mungkin kita merasa kurang cocok.

Mungkin cara penyampaiannya tidak sesuai dengan selera kita.

Tetapi sebelum menolak, dengarkan dulu. Pahami dulu. Kemudian ambil pelajarannya.

Tidak semua yang datang kepada kita harus diterima seluruhnya. Tetapi tidak semua pula harus ditolak seluruhnya.

Ambil ilmunya, buang yang tidak perlu.
Ambil pengalamannya, jadikan pelajaran.
Ambil kebaikannya, tanpa harus menjadi sama persis dengan orangnya.

Orang yang benar-benar ingin berkembang tidak sibuk mencari siapa yang paling benar.

Ia lebih sibuk bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari situasi ini?”

Karena setiap orang memiliki pengalaman.

Setiap orang memiliki kelebihan.

Setiap orang memiliki sudut pandang.

Dan hampir selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari orang lain.

Maka, kalau kita ingin terus berkembang, mari belajar memiliki pikiran yang terbuka dan hati yang tidak mudah dipenuhi sentimen pribadi.

Jangan biarkan ego memilih-milih dari siapa kita mau belajar.

Sebab terkadang, ilmu yang paling kita butuhkan justru datang dari orang yang tidak pernah kita duga.

Belajar dari siapa saja.
Dengarkan siapa saja.
Saring dengan bijaksana.
Ambil yang baik.
Dan teruslah berkembang.

Karena orang yang berhenti belajar mungkin masih bisa berjalan, tetapi dunia akan terus bergerak meninggalkannya.

Oleh : Kahana
IT Support, Web Programmer, Photographer

2 responses to “Belajarlah dari Siapa Saja, Ambillah Ilmunya”

  1. Avatar Atik DS
    Atik DS

    Sangat bagus dan relevan. Untuk terus belajar dan berkembang, kita perlu memiliki pikiran yang terbuka. Jangan sampai sentimen pribadi membuat kita menutup diri terhadap ilmu dan pengalaman yang sebenarnya bisa membuat kita menjadi lebih baik.

  2. Avatar jingga88
    jingga88

    Setuju sekali. Dalam perjalanan hidup, setiap orang yang kita temui sebenarnya adalah guru dengan caranya masing-masing. Ada yang mengajarkan ilmu, ada yang memberi pengalaman, bahkan ada yang mengajarkan kita melalui kesalahan dan sikapnya. Tinggal bagaimana kita mau belajar dan mengambil hikmahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x