Belajar Menempatkan Bahasa di Ruang Profesional
Ketika Sebuah Kata Berujung Panjang
Tidak semua masalah besar bermula dari sebuah kesalahan besar. Ada kalanya, persoalan justru lahir dari sesuatu yang tampak sederhana: sebuah celetukan, spontanitas, atau kebiasaan berbicara yang selama bertahun-tahun dianggap biasa.
Begitulah kisah seorang karyawan yang akhirnya harus menerima Surat Peringatan (SP) secara bertahap, mulai dari SP 1 hingga SP 3, setelah sebuah ucapan terlontar dalam sebuah pertemuan yang dihadiri dua orang pejabat.
Ucapan itu sederhana, hanya sebuah celotehan, “bajingan, asuh”.
Bagi sebagian orang, kata tersebut tentu terdengar kasar. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang sejak muda terbiasa berada dalam lingkungan pergaulan dengan gaya bahasa yang keras, ungkapan semacam itu mungkin dianggap sekadar ekspresi spontan. Tidak selalu ditujukan kepada seseorang dan tidak selalu pula dimaksudkan sebagai penghinaan.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika kata tersebut keluar di ruang resmi, dalam sebuah pertemuan, dan di hadapan pejabat.
Di situlah letak persoalannya.
Sebuah kata yang di lingkungan tertentu dianggap biasa dapat memiliki makna yang berbeda ketika dipindahkan ke lingkungan lain. Bahasa tidak hanya berkaitan dengan apa yang ingin disampaikan oleh seseorang, tetapi juga bagaimana kata itu diterima oleh orang lain.
Kita sering merasa, “Saya kan tidak bermaksud menghina.”
Namun dalam komunikasi, niat pembicara bukan satu-satunya hal yang menentukan. Ada konteks, situasi, tempat, hubungan antarorang, serta posisi orang-orang yang terlibat di dalam percakapan.
Apa yang terdengar lucu di warung kopi belum tentu lucu di ruang rapat.
Apa yang menjadi bahasa keakraban di antara teman lama belum tentu pantas digunakan dalam forum resmi.
Dan apa yang menurut kita hanya sebuah spontanitas, bisa saja dimaknai berbeda oleh orang yang mendengarnya.
Bahasa adalah Cermin Lingkungan
Setiap orang membawa sejarahnya masing-masing. Termasuk sejarah bagaimana ia belajar berbicara.
Ada orang yang sejak kecil dibiasakan menggunakan bahasa yang halus dan teratur. Ada pula yang tumbuh dalam lingkungan pergaulan yang penuh candaan, saling mengejek, dan terbiasa menggunakan istilah-istilah kasar sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari.
Dalam lingkungan tertentu, kata-kata keras bahkan tidak selalu dimaksudkan untuk menyakiti.
Tidak selalu ada niat menghina.
Tidak selalu pula ada keinginan merendahkan orang lain.
Kadang, seseorang mengucapkannya karena sudah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan seperti itu terbentuk dalam waktu yang panjang. Karena terus digunakan, sebuah kata akhirnya terasa biasa. Seseorang bahkan bisa sampai pada tahap tidak lagi menyadari bahwa kata tersebut tergolong kasar atau tidak pantas digunakan dalam situasi tertentu.
Inilah yang menarik untuk direnungkan.
Kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang bertambah usia, berganti pekerjaan, mendapatkan jabatan, atau memasuki lingkungan baru.
Seseorang mungkin telah menjadi pekerja profesional, memiliki tanggung jawab besar, dan terbiasa menghadiri berbagai rapat resmi. Namun pola komunikasi yang terbentuk sejak masa muda terkadang masih muncul secara spontan—terutama ketika sedang santai, terkejut, kesal, bercanda, atau terbawa suasana.
Masalahnya, dunia profesional memiliki aturan tidak tertulis yang berbeda.
Ketika seseorang memasuki ruang kerja, ia tidak hanya membawa kemampuan dan pengalaman. Ia juga membawa cara berbicara, cara bersikap, serta cara memperlakukan orang lain.
Karena itu, kemampuan menyesuaikan bahasa dengan situasi sesungguhnya merupakan bagian dari profesionalitas.
Ketika Konteks Mengubah Makna
Bahasa tidak pernah berdiri sendiri.
Makna sebuah kata sangat dipengaruhi oleh siapa yang mengucapkannya, kepada siapa kata itu ditujukan, di mana kata tersebut diucapkan, serta dalam situasi seperti apa kata itu keluar.
Kata yang sama dapat memiliki bobot yang berbeda ketika digunakan dalam situasi yang berbeda.
Di antara teman dekat, sebuah istilah kasar mungkin hanya dianggap sebagai gurauan. Bahkan, bagi sebagian kelompok pertemanan, saling mengejek dapat menjadi bentuk keakraban.
Namun ketika kata yang sama muncul dalam forum formal, maknanya bisa berubah. Ia dapat dipandang sebagai bentuk ketidaksopanan, tidak menghormati forum, atau bahkan dianggap merendahkan orang lain.
Terlebih jika dalam ruangan tersebut terdapat pimpinan, pejabat, atau seseorang yang memiliki posisi struktural tertentu.
Standar kesopanan dalam situasi seperti itu tentu menjadi lebih tinggi.
Bukan karena seseorang harus memperlakukan pejabat secara berlebihan. Bukan pula karena setiap percakapan di tempat kerja harus menjadi kaku dan penuh bahasa formal.
Persoalannya lebih sederhana: setiap ruang memiliki tata krama.
Ruang keluarga memiliki tata krama.
Ruang pertemanan memiliki kebiasaan sendiri.
Lingkungan masyarakat mempunyai norma tertentu.
Begitu pula ruang profesional.
Kemampuan seseorang bukan hanya terlihat dari apa yang dapat ia kerjakan, tetapi juga dari kemampuannya membaca situasi dan menyesuaikan diri.
Profesional Bukan Sekadar Pandai Bekerja
Pemberian SP 1, SP 2 hingga SP 3 tentu bukan perkara ringan bagi seorang karyawan.
Surat peringatan dapat memengaruhi hubungan kerja, reputasi, bahkan perjalanan seseorang di dalam organisasi.
Namun dari sisi lain, peristiwa tersebut dapat menjadi sebuah pelajaran penting: dunia kerja menuntut seseorang untuk terus belajar, termasuk belajar mengendalikan diri.
Menjadi profesional bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Bukan hanya tentang memiliki kemampuan teknis.
Bukan pula sekadar datang tepat waktu, berpakaian sesuai aturan, memenuhi target, atau menyelesaikan tugas yang diberikan.
Profesional juga berarti mampu mengendalikan ucapan.
Sebab dalam dunia kerja, mulut seseorang terkadang dapat menciptakan persoalan yang jauh lebih besar daripada persoalan yang sedang dibicarakan.
Satu kalimat dapat disalahpahami.
Satu kata dapat dianggap sebagai penghinaan.
Satu candaan dapat berubah menjadi persoalan formal.
Dan satu celetukan yang berlangsung hanya beberapa detik dapat memiliki konsekuensi yang panjang.
Karena itu, kemampuan menjaga ucapan sesungguhnya merupakan bagian dari kecakapan profesional.
Bukan berarti kita harus takut berbicara. Bukan pula berarti setiap orang harus menjadi pribadi yang kaku.
Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa setiap kata mempunyai tempat.
Ada saat untuk berbicara.
Ada saat untuk bercanda.
Ada saat untuk serius.
Ada saat untuk mendengarkan.
Dan ada saat ketika sebuah kata sebaiknya ditahan meskipun sudah berada di ujung lidah.
Bukan Berarti Masa Lalu Harus Dihakimi
Namun ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan.
Seseorang tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan kebiasaan buruk yang pernah melekat pada dirinya di masa lalu.
Lingkungan tempat seseorang tumbuh turut membentuk cara berbicara, cara berpikir, dan cara mengekspresikan emosi.
Orang yang tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang keras mungkin membutuhkan proses lebih panjang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan profesional.
Karena itu, ketika seseorang membawa kebiasaan lama ke tempat kerja, pendekatan yang dibutuhkan bukan semata-mata menghukum, tetapi juga mendidik dan mengingatkan.
Sanksi mungkin diperlukan sebagai bentuk penegakan aturan. Namun di balik sanksi seharusnya tetap tersedia ruang untuk belajar dan memperbaiki diri.
Sebab tujuan aturan di tempat kerja bukan sekadar mencari kesalahan karyawan.
Aturan dibuat agar setiap orang memahami batas-batas yang harus dihormati.
Dan ketika seseorang melakukan kesalahan, yang paling penting bukan hanya bagaimana kesalahan itu diberi konsekuensi, tetapi juga bagaimana seseorang belajar agar tidak mengulanginya.
Belajar Membedakan Bahasa Pergaulan dan Bahasa Profesional
Ada pelajaran sederhana yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut: tidak semua bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan pribadi dapat dibawa begitu saja ke tempat kerja.
Manusia memiliki banyak ruang dalam kehidupannya.
Ada ruang keluarga.
Ada ruang pertemanan.
Ada ruang nongkrong.
Ada ruang masyarakat.
Dan ada ruang profesional.
Masing-masing memiliki norma komunikasi yang berbeda.
Seorang karyawan boleh saja memiliki gaya bicara tertentu ketika bersama teman-temannya. Tetapi ketika memasuki lingkungan kerja, ia perlu memahami bahwa dirinya membawa identitas sebagai bagian dari sebuah organisasi.
Di ruang kerja, kata-kata harus dipilih dengan lebih hati-hati.
Bukan berarti bercanda tidak diperbolehkan.
Bukan berarti setiap percakapan harus menggunakan bahasa yang sangat formal.
Yang diperlukan adalah kemampuan membaca keadaan.
Kapan boleh bercanda.
Kapan harus serius.
Kapan harus berbicara.
Kapan harus mendengarkan.
Kapan harus diam.
Dan kapan sebuah kata sebaiknya tidak jadi diucapkan.
Kemampuan semacam ini tidak selalu berhubungan dengan tingkat pendidikan seseorang. Ia lebih banyak berkaitan dengan kematangan diri, pengalaman sosial, dan kesadaran terhadap lingkungan.
Sebuah Kata, Sebuah Cermin
Kisah seorang karyawan yang mendapatkan SP karena sebuah celoteh pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seseorang yang salah berbicara.
Lebih dari itu, kisah ini adalah gambaran tentang bagaimana manusia membawa kebiasaan masa lalu ke dalam kehidupan masa kini.
Kadang kita tidak sadar bahwa kebiasaan yang selama bertahun-tahun dianggap normal ternyata tidak selalu cocok ketika dibawa ke lingkungan baru.
Karena itu, setiap perubahan lingkungan seharusnya diikuti dengan perubahan cara membawa diri.
Ketika seseorang masuk ke dunia kerja, ia tidak hanya membawa ijazah dan kemampuan.
Ia juga membawa karakter.
Membawa kebiasaan.
Membawa cara berbicara.
Membawa cara memperlakukan orang lain.
Dan membawa kemampuan—atau ketidakmampuan—untuk mengendalikan dirinya.
Semua itu ikut membentuk bagaimana seseorang dipandang oleh lingkungan.
Terkadang, justru hal-hal kecil seperti tutur kata menjadi penentu kesan seseorang di mata orang lain.
Kita mungkin lupa dengan apa yang pernah kita ucapkan.
Tetapi orang lain belum tentu melupakannya.
Itulah sebabnya menjaga ucapan menjadi penting.
Bukan karena kita harus takut berbicara, melainkan karena kita perlu memahami bahwa setiap kata memiliki tempatnya masing-masing.
Kata-kata yang biasa diucapkan di antara kawan lama mungkin tidak tepat di ruang rapat.
Candaan yang mengundang tawa di satu tempat mungkin membuat orang lain merasa tidak nyaman di tempat berbeda.
Ungkapan spontan yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menyakiti seseorang tetap dapat menimbulkan persoalan ketika keluar dalam situasi yang tidak tepat.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan hanya tentang bertambahnya usia.
Kedewasaan juga tentang kemampuan mengetahui kapan harus berbicara, bagaimana berbicara, dan kapan harus menahan sebuah kata.
Dari Hukuman Menjadi Pembelajaran
SP boleh menjadi hukuman.
Tetapi semoga ia juga menjadi pelajaran.
Sebab dari sebuah celoteh yang hanya berlangsung beberapa detik, seseorang dapat belajar sesuatu yang nilainya jauh lebih panjang: bahwa kemampuan bekerja harus berjalan beriringan dengan kemampuan menjaga sikap dan tutur kata.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Setiap orang pernah salah bicara.
Setiap orang pernah salah bersikap.
Namun orang yang dewasa adalah mereka yang mau belajar dari kesalahan.
Kesalahan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan. Ia dapat menjadi titik untuk berhenti sejenak, melihat kembali diri sendiri, kemudian memperbaiki cara melangkah.
Barangkali, pelajaran paling sederhana dari kisah ini adalah:
“Tidak semua yang biasa kita katakan di lingkungan pergaulan, pantas kita ucapkan di setiap tempat.”
Karena pada akhirnya, kata-kata bukan hanya menunjukkan siapa diri kita.
Kata-kata juga menunjukkan seberapa mampu kita menempatkan diri.
Peran Orang Tua, Benteng Pertama dalam Membentuk Bahasa dan Pergaulan Anak
Peristiwa tersebut juga membawa kita pada persoalan yang lebih jauh: dari mana kebiasaan berbahasa seseorang sebenarnya terbentuk?
Jawabannya tidak sederhana.
Keluarga, sekolah, teman sebaya, lingkungan masyarakat, media sosial, dan berbagai pengalaman hidup ikut membentuk cara seseorang berkomunikasi.
Karena itu, keterlibatan orang tua dalam mendampingi pergaulan putra-putrinya di luar rumah menjadi sangat penting.
Anak memang tidak mungkin terus-menerus berada dalam pengawasan orang tua.
Mereka akan tumbuh.
Mereka akan memiliki teman.
Mereka akan memasuki lingkungan baru.
Mereka akan bertemu dengan berbagai karakter manusia.
Dan pada saat itulah pengaruh lingkungan pergaulan mulai memainkan peranan besar.
Lingkungan pergaulan dapat memengaruhi cara anak berbicara, bersikap, bahkan menentukan apa yang menurut mereka pantas atau tidak pantas.
Jika seorang anak setiap hari mendengar bahasa kasar dari lingkungan sekitarnya, lama-kelamaan kata-kata tersebut dapat terasa biasa.
Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan agar diterima dalam kelompok pertemanan.
Kemudian menjadi kebiasaan.
Dan ketika kebiasaan itu sudah melekat, seseorang dapat mengucapkannya secara spontan tanpa menyadari bahwa perkataannya mungkin menyinggung orang lain.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengetahui anak pergi dengan siapa.
Orang tua juga perlu memahami seperti apa lingkungan pergaulan anaknya.
Mendampingi, Bukan Sekadar Mengawasi
Mendampingi anak bukan berarti harus mengekang.
Bukan berarti setiap teman harus dicurigai.
Bukan pula berarti anak tidak boleh memiliki kehidupan sosialnya sendiri.
Pendampingan justru dapat dilakukan melalui komunikasi yang terbuka.
Orang tua dapat mengajak anak berbicara tentang teman-temannya, aktivitas yang dilakukan, pengalaman yang mereka alami, termasuk bahasa yang biasa digunakan dalam kelompok pergaulan mereka.
Yang tidak kalah penting adalah memberikan pemahaman bahwa tidak semua kebiasaan teman harus ditiru.
Anak perlu dibekali kemampuan untuk membedakan mana bahasa yang hanya digunakan dalam percakapan santai dengan teman sebaya dan mana bahasa yang sebaiknya dihindari dalam situasi resmi.
Mereka perlu memahami bahwa menghargai orang lain bukan berarti kehilangan kebebasan untuk berekspresi.
Justru dengan menghargai orang lain, seseorang belajar menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab.
Orang Tua adalah Teladan Pertama
Di atas semua nasihat, ada satu hal yang sering kali lebih kuat daripada kata-kata: keteladanan.
Anak akan lebih mudah menerima nasihat apabila melihat orang tuanya sendiri mampu menjaga ucapan ketika berbicara dengan orang lain.
Sebaliknya, akan sulit meminta anak menggunakan bahasa yang santun apabila di rumah mereka terbiasa mendengar perkataan kasar.
Pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di sekolah.
Rumah adalah sekolah pertama.
Lingkungan pergaulan juga merupakan ruang belajar yang sangat besar bagi seorang anak.
Karena itu, mendampingi anak dalam pergaulan bukan berarti membatasi dunia mereka.
Justru sebaliknya, orang tua sedang membekali mereka agar mampu memasuki dunia yang lebih luas dengan bekal yang cukup: kemampuan memilih lingkungan, menyaring kebiasaan, menghargai orang lain, dan mengendalikan diri.
Sebab kita tidak mungkin selamanya berada di samping anak untuk mengawasi setiap perkataannya.
Akan tiba waktunya mereka berada di luar rumah, bertemu banyak orang, memasuki dunia pendidikan, bekerja, membangun relasi, dan menghadapi berbagai macam karakter.
Yang dapat dilakukan orang tua adalah menanamkan nilai sejak dini.
Agar ketika orang tua tidak lagi berada di dekat mereka, nasihat, keteladanan, dan nilai kesopanan yang diberikan di rumah tetap ikut berjalan bersama mereka.
Menanamkan Nilai Sebelum Dunia Mengajarkannya
Pada akhirnya, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk cara anak melihat dunia.
Anak bukan hanya membutuhkan orang tua yang mengawasi.
Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengar.
Mau memahami.
Mau memberi contoh.
Dan mau membimbing tanpa selalu menghakimi.
Sebab dunia akan terus mengajarkan banyak hal kepada anak. Tidak semuanya baik, dan tidak semuanya harus mereka bawa dalam kehidupan.
Tugas keluarga adalah membantu anak memiliki kemampuan untuk memilih.
Memilih perkataan.
Memilih pergaulan.
Memilih sikap.
Dan pada akhirnya, memilih bagaimana mereka ingin dikenal oleh orang lain.
Kisah tentang sebuah celetukan di ruang profesional mungkin tampak sederhana. Namun dari sana kita dapat belajar bahwa kebiasaan kecil yang dibentuk sejak lama dapat terbawa jauh hingga seseorang memasuki dunia kerja.
Karena itu, pendidikan tentang tutur kata dan sikap sebaiknya dimulai sedini mungkin.
Bukan agar anak menjadi takut berbicara.
Bukan agar mereka kehilangan keberanian untuk berekspresi.
Tetapi agar mereka memahami satu hal yang sangat sederhana:
setiap tempat memiliki bahasa, setiap situasi memiliki tata krama, dan setiap kata memiliki konsekuensi.
Mungkin kita tidak dapat memilih semua lingkungan yang akan kita temui dalam hidup.
Namun kita selalu dapat belajar memilih bagaimana kita membawa diri di dalamnya.
Dan barangkali, itulah salah satu tanda kedewasaan yang paling sederhana:
tahu apa yang ingin dikatakan, tahu bagaimana mengatakannya, dan tahu kapan sebuah kata sebaiknya disimpan.
Oleh : Kahana
